Hujan Turun, Krisis Air Bersih Kubu Raya Belum Berakhir

BERITA90 Dilihat

KUBU RAYA – Hujan yang turun di tengah kemarau panjang belum membuat persoalan air bersih di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, berakhir. Air hujan yang tertampung warga masih berbau asap sehingga belum dapat diandalkan untuk kebutuhan konsumsi.

Kondisi itu mendorong Polres Kubu Raya bersama Pemerintah Daerah menyalurkan 8.000 liter air bersih siap konsumsi kepada masyarakat di tiga lokasi yang membutuhkan pasokan air.

Air tersebut didistribusikan ke Desa Kuala Dua sebanyak 1.000 liter, Jalan Trans Kalimantan Dusun Parit Masegi sebanyak 6.000 liter, dan Jalan Nurul Huda, Kecamatan Sungai Raya, sebanyak 1.000 liter.

Penyaluran dilakukan ketika sebagian masyarakat masih menghadapi keterbatasan sumber air bersih. Hujan yang mulai turun belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan karena air yang tertampung masih berbau asap.

Kapolres Kubu Raya AKBP Rensa S. Aktadivia melalui Kasubsi Penmas Aiptu Ade mengatakan kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap air bersih tetap mendesak meski hujan mulai turun.

“Hujan sudah turun, tetapi belum berarti kebutuhan air bersih warga terpenuhi. Air yang turun masih berbau asap. Karena itu, air bersih yang bisa langsung dimanfaatkan warga menjadi kebutuhan yang harus segera dipenuhi.” kata Ade, Sabtu (26/9/26).

Menurut Ade, distribusi air diarahkan ke lokasi yang membutuhkan agar masyarakat tetap memiliki akses terhadap air untuk kebutuhan konsumsi di tengah keterbatasan sumber air.

Bantuan sebanyak 6.000 liter menjadi bagian terbesar dari distribusi, yakni untuk warga di Jalan Trans Kalimantan Dusun Parit Masegi. Sementara masing-masing 1.000 liter disalurkan ke Desa Kuala Dua dan Jalan Nurul Huda, Kecamatan Sungai Raya.

Bagi warga yang belum dapat mengandalkan air hujan, pasokan tersebut memberi alternatif air siap konsumsi di tengah kondisi kemarau yang masih berlangsung. Persoalan air bersih pun belum berhenti hanya karena hujan mulai turun.

Polres Kubu Raya bersama Pemerintah Daerah dan stekholder terkait menempatkan kebutuhan air masyarakat sebagai bagian dari respons terhadap kondisi lapangan. Distribusi dilakukan dengan mengarahkan pasokan langsung ke titik-titik yang membutuhkan.

“Yang utama adalah memastikan air sampai kepada masyarakat yang membutuhkan. Ketika sumber air belum kembali normal, kebutuhan untuk minum tidak bisa ditunda.” ujar Ade.

Penyaluran 8.000 liter air bersih itu menunjukkan bahwa hujan belum otomatis memulihkan akses masyarakat terhadap air yang dapat dimanfaatkan. Selama kondisi sumber air belum normal, kebutuhan air bersih tetap menjadi persoalan yang harus mendapat penanganan di lapangan.