Kemarau Ekstrem Mengintai, Serdik Sespimmen dan Polres Kubu Raya Perkuat Deteksi Dini Karhutla

BERITA13 Dilihat

KUBU RAYA – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkat seiring kondisi kemarau ekstrem yang diprediksi berlangsung hingga kuartal pertama 2027. Mengantisipasi potensi tersebut, Serdik Sespimmen Polri Angkatan ke-67 bersama Polres Kubu Raya memperkuat pencegahan melalui patroli terpadu, edukasi masyarakat, kesiapan sumber air, dan pemanfaatan teknologi deteksi titik panas.

Langkah itu mengemuka dalam sosialisasi pencegahan dan penanganan karhutla bersama Serdik Sespimmen Angkatan ke-67 di RRI Pontianak, Senin (14/9/2026). Serdik yang terlibat yakni Risqi Akbar, Ferdinan, Lutfi Olot Gigantara, dan Robby.

Risqi Akbar mengatakan karhutla merupakan persoalan yang berulang setiap tahun, tetapi dampaknya dapat meluas terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat. Kondisi cuaca yang semakin ekstrem membuat upaya pencegahan tidak bisa menunggu api muncul.

“Karhutla ini memang kejadian tahunan, tetapi dampaknya sangat besar. Dengan kondisi iklim yang ekstrem, kita harus meningkatkan kewaspadaan dan melakukan pencegahan sejak awal,” ujar Risqi.

Menurut Risqi, aktivitas manusia masih menjadi salah satu pemicu utama karhutla. Pembukaan lahan dengan cara dibakar, pembakaran sampah, hingga kelalaian membuang puntung rokok dapat memicu api ketika vegetasi dan lahan berada dalam kondisi kering.

Karena itu, Ferdinan menilai patroli rutin dan terpadu perlu diperkuat untuk menemukan potensi kebakaran sedini mungkin. Upaya tersebut tidak cukup hanya mengandalkan aparat, tetapi membutuhkan keterlibatan pemangku kepentingan dan masyarakat peduli api.

“Patroli bersama harus terus diaktifkan. Kepolisian, stakeholder dan masyarakat peduli api harus bergerak bersama untuk mendeteksi potensi kebakaran sedini mungkin,” kata Ferdinan.

Selain deteksi dini, kesiapan sumber air menjadi persoalan penting dalam menghadapi musim kering. Embung dan tempat penampungan air dapat dipersiapkan sejak musim penghujan agar kebutuhan pemadaman tidak sepenuhnya bergantung pada sumber air yang tersedia secara alami.

Lutfi Olot Gigantara menilai tantangan terbesar saat ini bukan sekadar menambah jumlah embung, tetapi memastikan sumber air tetap tersedia ketika kemarau berlangsung ekstrem.

“Kendalanya bukan hanya bagaimana memperbanyak embung, tetapi bagaimana airnya tetap tersedia ketika kemarau ekstrem. Ini yang harus kita persiapkan sejak musim penghujan,” ungkap Lutfi.

Sementara itu, Robby menjelaskan teknologi turut digunakan untuk mempercepat identifikasi potensi karhutla. Salah satunya melalui aplikasi Lancang Kuning yang terintegrasi dengan satelit untuk mendeteksi titik panas berdasarkan koordinat.

“Lancang Kuning membantu kita mendeteksi titik panas berdasarkan koordinat. Informasinya kemudian diteruskan kepada personel terdekat untuk dilakukan pengecekan di lapangan,” jelas Robby.

Namun, titik panas yang terdeteksi satelit tidak serta-merta dinyatakan sebagai karhutla. Petugas tetap melakukan verifikasi langsung untuk memastikan kondisi di lapangan. Sebab, panas yang terbaca sistem juga dapat berasal dari objek lain, seperti atap seng rumah warga.

Jika ditemukan api, personel terdekat seperti Bhabinkamtibmas, Babinsa, BNPB dan Manggala Agni dapat segera melakukan pemadaman awal. Penanganan selanjutnya dikoordinasikan dengan Polsek maupun Polres untuk mencegah api berkembang dan meluas.

Di tengah prediksi kondisi kering yang dapat berlangsung hingga awal 2027, masyarakat juga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar. Warga yang menemukan titik api diharapkan segera melaporkannya agar penanganan dapat dilakukan sebelum kebakaran membesar.

Penguatan patroli, kesiapan air, keterlibatan masyarakat, serta pemanfaatan teknologi menjadi satu rangkaian pencegahan yang diarahkan untuk memperpendek waktu antara deteksi dan penanganan. Semakin cepat api ditemukan dan ditangani, semakin besar peluang karhutla dapat dikendalikan sebelum menimbulkan dampak yang lebih luas.