Polres Kubu Raya Uji X-Fire di Empat Kecamatan Rawan Karhutla

BERITA29 Dilihat

KUBU RAYA – Polres Kubu Raya menggunakan cairan pemadam X-Fire untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tiga kecamatan yang dinilai rawan terjadi kebakaran, yakni Sungai Raya, Rasau Jaya, Sungai Ambawang dan Sungai Kakap.

Penggunaan X-Fire menjadi bagian dari uji coba taktis yang dilakukan Polri bersama Tim Ops Aman Nusa II Polres Kubu Raya untuk mengukur efektivitas cairan pemadam dalam menghadapi karakteristik lahan gambut. Medan gambut menjadi salah satu tantangan karena bara api dapat bertahan di bawah permukaan meski api di atas tanah telah terlihat padam.

Dalam uji coba tersebut, 1.000 liter campuran X-Fire terdiri atas 200 liter cairan X-Fire dan 800 liter air atau 1:10. Formula itu diuji untuk melihat kemampuan membasahi sekaligus menembus lapisan gambut sehingga proses pemadaman dan pendinginan dapat berlangsung lebih efektif.

Penggunaan cairan tersebut juga diarahkan untuk mempercepat proses cooling down dengan menekan suhu dan titik panas yang masih tersisa. Langkah ini penting untuk mencegah bara kembali menyala setelah api permukaan berhasil dikendalikan.

Selain pemadaman, formula X-Fire diuji untuk menekan produksi asap yang menjadi salah satu dampak utama kebakaran lahan gambut. Cairan tersebut dirancang untuk mengikat material sekaligus menghambat suplai oksigen sehingga bara dapat dikendalikan dengan lebih optimal.

Kapolres Kubu Raya AKBP Rensa S. Aktadivia melalui Kasubsi Penmas Aiptu Ade mengatakan penggunaan X-Fire dilakukan sebagai bagian dari upaya mencari metode pemadaman yang lebih efektif pada wilayah yang memiliki potensi karhutla tinggi.

“Penggunaan X-Fire dilakukan di tiga kecamatan rawan karhutla, yakni Sungai Raya, Rasau Jaya, Sungai Ambawang dan Sungai Kakap. Uji coba ini untuk melihat efektivitasnya dalam mempercepat pemadaman, pendinginan, serta mengurangi potensi munculnya kembali titik panas,” kata Ade, Senin (14/9/26).

Menurutnya, pengujian di sejumlah lokasi dengan karakteristik lahan berbeda diperlukan untuk mendapatkan gambaran mengenai kemampuan formula tersebut saat diterapkan di lapangan. Hasilnya dapat menjadi bahan evaluasi dalam menentukan langkah penanganan karhutla secara lebih cepat dan efisien.

Uji coba X-Fire juga menjadi bagian dari asesmen terhadap metode pemadaman pada lahan gambut yang memiliki tingkat kesulitan berbeda. Formula berbahan dasar CPO dan tepung tapioka tersebut selanjutnya diharapkan dapat memberikan data lapangan untuk mendukung strategi mitigasi karhutla dalam jangka panjang.

Bagi wilayah yang setiap tahun menghadapi ancaman karhutla, efektivitas pemadaman tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menjinakkan api di permukaan. Kemampuan mengendalikan bara di dalam gambut dan memastikan titik panas benar-benar turun menjadi faktor penting untuk mencegah kebakaran kembali terjadi.