Karhutla 6 Hektare Dekat Permukiman Kubu Raya, Petugas Berpacu dengan Api dan Angin

KEPOLISIAN45 Dilihat

Kobaran api membesar di lahan yang berada tak jauh dari Perumahan Seruat Mansion, Jalan Angkasa Pura, Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Tiupan angin membuat api bergerak cepat, sementara kepulan asap cokelat pekat membubung di sekitar lokasi, kemarin malam.

Kebakaran itu ditemukan Tim Kegiatan Rutin yang Ditingkatkan (KRYD) Polres Kubu Raya ketika melakukan patroli di kawasan tersebut. Begitu melihat titik api, petugas langsung menghentikan kendaraan dan bergerak melakukan pemadaman.

Empat unit mesin Robin segera dioperasikan. Petugas juga membentangkan 42 selang, memasang empat nozzle dan empat selang hisap untuk menyuplai air ke titik-titik api.

Namun, api tidak mudah dikendalikan.

Angin yang bertiup cukup kencang justru membuat kobaran bergerak dan memperluas area yang terbakar. Petugas harus berpacu dengan arah angin agar api tidak menjalar menuju bagian lahan lain yang berdekatan dengan kawasan permukiman.

Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 6 hektare.

Situasi tersebut membuat penanganan tidak bisa dilakukan sendiri. Tim KRYD kemudian berkoordinasi dengan BNPB Kubu Raya, BPBD serta Koramil 05/Sungai Raya untuk memperkuat pemadaman sekaligus membuat penyekatan di sekitar area kebakaran.

Penyekatan menjadi bagian penting dalam penanganan karena tujuan petugas bukan hanya memadamkan api yang terlihat, tetapi juga menghentikan kemungkinan api merambat ke lahan lain.

Kapolres Kubu Raya AKBP Rensa S. Aktadivia melalui Kasubsi Penmas Polres Kubu Raya Aiptu Ade mengatakan, tim gabungan masih melakukan penyemprotan, pemadaman dan penyekatan untuk melokalisir kebakaran.

“Tim gabungan terus melakukan penyemprotan dan pemadaman, sekaligus penyekatan agar kebakaran tidak meluas ke lahan lain maupun mendekati permukiman masyarakat,” kata Ade, Minggu (9/8/26).

Menurut dia, proses pemadaman masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya jarak antara titik kebakaran dengan sumber air yang cukup jauh.

Kondisi itu membuat petugas harus mengatur suplai air secara efektif, sementara api terus berpotensi bergerak mengikuti arah angin.

“Api belum dapat dipadamkan seluruhnya karena lahan yang terbakar cukup luas. Di beberapa lokasi masih terdapat bara api yang cukup besar dan mengeluarkan asap. Bara tersebut sewaktu-waktu dapat kembali menyala,” ujarnya.

Karena itu, petugas tidak langsung meninggalkan lokasi setelah kobaran utama berhasil ditekan. Pendinginan terus dilakukan untuk memastikan bara yang tersisa tidak berkembang menjadi titik api baru.

Upaya tersebut juga diarahkan untuk menjaga agar kebakaran tidak menjalar ke area lain yang berpotensi mendekati permukiman warga.

Bagi petugas di lapangan, tantangan karhutla bukan hanya api yang terlihat. Bara yang tertinggal di dalam lahan, ditambah kondisi angin dan keterbatasan akses sumber air, dapat membuat kebakaran kembali membesar jika tidak diawasi.

Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan masih melakukan pemadaman dan pendinginan di lokasi. Petugas juga tetap bersiaga untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api.

Penanganan dilakukan dengan satu tujuan utama: memutus laju kebakaran sebelum api menemukan jalur baru menuju lahan lain dan permukiman warga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *