Petugas Gabungan Lanjutkan Pendinginan Karhutla di Kubu Raya, 4 Hektare Lahan Terbakar

BERITA210 Dilihat

KUBU RAYA – Api di lahan gambut memang telah padam, tetapi petugas belum beranjak. Bara yang masih tersimpan di dalam tanah dan kepulan asap tebal membuat proses pendinginan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Mengkalang dan Desa Mengkalang Jambu, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya, terus dilanjutkan.

Pemadaman dan pendinginan lanjutan dilakukan Senin (31/8/2026) mulai pukul 11.00 WIB. Petugas gabungan dikerahkan untuk memastikan titik-titik bekas kebakaran benar-benar aman dan tidak kembali menyala.

Kegiatan dipimpin Kanit Reskrim Polsek Kubu Ipda Irwan Supardal, S.H. Personel Polsek Kubu juga diperkuat tim pemadam dari Batalyon Infanteri TP 882 Hulu Balang Kabupaten Kubu Raya sebanyak 15 personel, 52 personel Damkar PT Sintang Raya, serta 25 anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) dari Desa Mengkalang dan Desa Mengkalang Jambu.

Berdasarkan hasil verifikasi lapangan, terdapat tujuh titik hotspot yang tersebar di kawasan tersebut. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 4 hektare.

Dari luasan tersebut, sekitar 2 hektare telah berhasil ditangani, sementara 2 hektare lainnya masih dalam proses penanganan. Tidak terdapat lahan yang belum ditangani.

Lokasi kebakaran berada sekitar 300 meter dari permukiman warga. Sementara sumber air untuk mendukung proses pemadaman berjarak kurang lebih 20 meter dari titik kebakaran.

Bara di Dalam Gambut Jadi Tantangan

Petugas menghadapi medan yang tidak mudah. Sebagian besar area yang terbakar merupakan lahan gambut yang ditumbuhi semak dan pakis.

Meski api di permukaan telah padam, bara dapat bertahan cukup dalam di lapisan tanah. Kondisi itu membuat proses pendinginan membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar dan dilakukan secara berulang.

Angin kencang juga menjadi persoalan tersendiri. Api yang masih menyimpan bara berpotensi kembali menyala dan menyebar ke vegetasi kering di sekitarnya.

Belum lagi kepulan asap tebal yang mengurangi jarak pandang petugas saat melakukan pemadaman.

“Pendinginan terus dilakukan untuk memastikan bara yang berada di dalam tanah benar-benar mati dan tidak merambat ke area yang belum terbakar maupun mendekati permukiman warga,” ujar petugas di lokasi.

Alat Berat Dikerahkan

Penanganan karhutla kali ini didukung sejumlah sarana dan prasarana. Petugas mengerahkan tiga unit kendaraan roda dua dinas, satu mesin pemadam milik Polsek Kubu, delapan mesin pemadam milik PT Sintang Raya, delapan nozzle dan delapan selang hisap.

Selain itu, 60 gulung selang ukuran 1,5 inci, tiga unit Tossa, tiga kendaraan roda empat, dua unit excavator, satu unit zonder, serta 14 unit HT turut digunakan untuk mendukung operasi di lapangan.

Peralatan tersebut digunakan untuk mempercepat proses pembasahan sekaligus menjangkau titik-titik yang sulit ditangani secara manual.

Petugas juga berkoordinasi dengan instansi terkait dan masyarakat untuk mengetahui status serta kepemilikan lahan yang terbakar.

Dari hasil pendataan sementara, area yang terbakar didominasi semak belukar dan pakis. Sebagian lainnya merupakan lahan perkebunan kelapa sawit milik masyarakat.

Api Padam, Pendinginan Tetap Berlanjut

Pada saat dilakukan pengecekan sekitar pukul 11.00 WIB, api di lokasi dilaporkan telah padam. Namun, kepulan asap masih terlihat sehingga petugas tetap melakukan pendinginan.

Langkah tersebut dilakukan sebagai antisipasi agar bara yang berada di dalam lapisan gambut tidak kembali memicu kebakaran.

Petugas juga terus memantau perkembangan situasi melalui aplikasi hotspot dan patroli langsung di lapangan. Upaya ini penting mengingat kondisi cuaca panas dan angin kencang dapat meningkatkan risiko munculnya kembali titik api.

Polsek Kubu bersama unsur terkait mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan. Sosialisasi pencegahan karhutla dan patroli secara berkelanjutan akan terus dilakukan sebagai langkah deteksi dini.

Bagi petugas, memastikan api padam bukan sekadar melihat tidak adanya kobaran. Di lahan gambut, kepulan asap yang tersisa bisa menjadi tanda bahwa bara masih bersembunyi di bawah permukaan. Karena itu, pembasahan dan pemantauan terus dilakukan hingga lokasi benar-benar dinyatakan aman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *