Serdik Sespimmen Polri Kaji Karhutla dan Krisis Air Bersih, Dorong Solusi Berbasis Kondisi Lapangan

BERITA17 Dilihat

KUBU RAYA – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) datang bersamaan dengan persoalan ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Di tengah kemarau yang berlangsung cukup panjang, Peserta Didik (Serdik) Sespimmen Polri Dikreg ke-67 Pokjar 18 turun langsung membantu masyarakat sekaligus memperkuat pencegahan Karhutla.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Kuliah Kerja Profesi (KKP) sebagai Satgas Edukasi Karhutla dalam Operasi Aman Nusa II di wilayah hukum Polres Kubu Raya, Polda Kalimantan Barat. KKP berlangsung pada 7-16 September 2026 sebagai tindak lanjut perintah Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si., untuk mendukung pemerintah daerah, kepolisian kewilayahan dan masyarakat menghadapi Karhutla serta dampak musim kemarau.

Selain melakukan kajian, para Serdik turun langsung ke wilayah rawan karhutla untuk melihat kondisi lingkungan, persoalan air bersih dan tantangan penanganan Karhutla.

Kapolres Kubu Raya AKBP Rensa S. Aktadivia melalui Kasubsi Penmas Aiptu Ade mengatakan, KKP tersebut tidak hanya menjadi proses pembelajaran, tetapi juga bagian dari upaya memperkuat pencegahan Karhutla dan membantu masyarakat menghadapi dampak kemarau.

“Serdik turun langsung untuk membaca persoalan di lapangan, berdialog dengan masyarakat dan stakeholder, lalu merumuskan langkah konkret untuk mencegah Karhutla dan membantu warga terdampak kemarau,” kata Ade, Kamis (10/9/2026).

Menurut Ade, kondisi kemarau membuat pencegahan harus dilakukan lebih dini. Keterbatasan sumber air, lahan yang semakin kering dan meningkatnya risiko kebakaran membutuhkan kesiapsiagaan serta koordinasi lintas sektor.

Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah Focus Group Discussion (FGD) dengan melibatkan unsur Polres Kubu Raya, pemerintah daerah, instansi terkait, tokoh dan kelompok masyarakat.

FGD membahas berbagai faktor penyebab Karhutla, pola pembukaan lahan, kondisi lingkungan, ketersediaan sumber air hingga kendala yang dihadapi masyarakat dan petugas. Hasilnya menjadi bahan analisis untuk merumuskan langkah pencegahan sesuai kondisi wilayah.

Para Serdik juga memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar, meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau serta segera melaporkan ke Call Center Polri 110 apabila menemukan titik api atau aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

Pendekatan dilakukan secara dialogis agar masyarakat tidak hanya menjadi sasaran sosialisasi, tetapi ikut menjadi bagian dari sistem pencegahan Karhutla dari tingkat lingkungan hingga desa.

Di tengah persoalan air bersih, Serdik Pokjar 18 juga melaksanakan bakti sosial dengan menyalurkan 8.000 liter air bersih siap konsumsi dan membagikan masker kepada masyarakat yang membutuhkan, termasuk warga yang berpotensi terdampak asap Karhutla.

Bantuan tersebut menjadi bentuk respons langsung terhadap kebutuhan dasar masyarakat di tengah kondisi musim kering dan keterbatasan sumber air.

Kegiatan tidak berhenti pada edukasi dan bantuan sosial. Ketika menemukan kebakaran di lapangan, para Serdik turut membantu pemadaman bersama personel Polri, stakeholder terkait dan relawan.

Keterlibatan langsung itu memberikan pengalaman faktual mengenai kompleksitas penanganan Karhutla, mulai dari kondisi geografis, karakteristik lahan, keterbatasan sumber air hingga mobilisasi personel menuju lokasi kebakaran.

“Kemarau membuat risiko kebakaran meningkat, sementara sumber air terbatas. Karena itu, deteksi dini, kesiapsiagaan dan edukasi masyarakat harus diperkuat sebelum api muncul,” ujar Ade.

Pengalaman lapangan, hasil FGD dan dialog dengan masyarakat selanjutnya menjadi bahan penyusunan rekomendasi strategis dan solusi aplikatif bagi pemerintah daerah serta stakeholder terkait.

Rekomendasi tersebut diarahkan untuk memperkuat deteksi dini, pencegahan, kesiapsiagaan dan pengelolaan sumber daya air, sehingga penanganan Karhutla tidak hanya bersifat reaktif.

Ade menegaskan, keberhasilan penanganan Karhutla bukan sekadar kemampuan memadamkan api, tetapi seberapa jauh kebakaran dapat dicegah sejak awal.

“Karhutla bukan hanya soal memadamkan api. Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika api dapat dicegah, masyarakat terlindungi dan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi,” katanya.

Melalui KKP tersebut, Serdik Sespimmen Polri Dikreg ke-67 Pokjar 18 mendorong penguatan kolaborasi antara Polri, TNI, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha dan seluruh stakeholder.

Sinergi tersebut diharapkan mampu mencegah Karhutla sekaligus mengantisipasi dampak kemarau, termasuk persoalan air bersih, sehingga kebakaran hutan dan lahan tidak terus menjadi persoalan tahunan.

Bagi para Serdik, KKP ini sekaligus menjadi implementasi pendidikan kepemimpinan Polri. Mereka tidak hanya dituntut mampu menganalisis persoalan secara strategis, tetapi juga hadir di tengah masyarakat, bekerja bersama stakeholder dan memberikan solusi terhadap persoalan nyata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *